Sabtu, 07 Januari 2017

Serempet Gudal (sereal)

Pada awal 2014, ada fenomena kehidupan remaja putri yang masih di bawah umur terjun ke dunia “esek-esek” bebas. Masyarakat menyebut mereka sebagai Kimcil. Entah akronim dari kata apa, yang jelas Kimcil sudah bukan rahasia lagi dalam realitas kehidupan.

Sementara itu, beberapa tahun belakangan negeri tetangga Malaysia beberapa kali mengklaim mereka memiliki produk budaya khas negeri itu. Padahal sejarah membuktikan, produk budaya itu adalah milik Indonesia. Lalu muncullah olok-olok Malingsia.

Nah, Kimcil dan Malingsia itu kemudian diangkat menjadi lagu dengan lirik nakal yang sarat kritik, dikemas dengan kata-kata nakal. Namun, bukan hanya kritik belaka sebab dalam satu lagu ada juga petuah kehidupan. Itulah yang dilakukan band indie dari Semarang, Serempet Gudal.

Nama Serempet Gudal sebenarnya berkesan jorok. Dua kata itu adalah kata bahasa Jawa. Serempet berarti menyerempet, sementara gudal adalah kotoran atau plak yang melekat di gigi. Dari nama grup yang nakal, produk lagu-lagunya tidak jauh dari ndugal dan bengal.

"Setiap orang pasti punya gudal. Nama itu pun kami buat dengan usulan banyak teman. Setiap orang mengusulkan satu nama, kemudian dikopyok, keluarlah nama Serempet Gudal. Semoga rezeki selalu menyerempet kami, seperti gudal yang dimiliki setiap orang," kata Erry Budi Prasetyo, sang manajer.

Ia menuturkan, semua lirik berasal dari realitas sosial dan politik yang ada di kehidupan sehari-hari. "Bila ada sesuatu yang baru, kami membuat lirik lagu. Aransemen lagu pun kami buat bersama-sama," ujarnya.

Serempet Gudal memang termasuk genre band yang sarat kritik. Band ini seolah menjadi reinkarnasi dari grup band masa lalu, seperti Pancaran Sinar Petromak (1980-an), Harapan Bangsa (1990-an), Pengantar Minum Racun, The Product Gagal (2000-an), maupun Keroncong Chaos.

Awak band ini adalah musikus cadas. Namun ketika membentuk Serempet Gudal, mereka menanggalkan semua itu dan melebur ke musik baru. Mereka adalah Dimas Xella (vokal), Tilar Febri Pepeb (vokal latar), Alto Bonci (marakas), Gembeng (perkusi), Panji (gendang), Eka Bayi (lead gitar), Enno (bass), Bondan (gitar), Abil Kawul (keyboard), dan Inu Ambon (drum).


Awalnya Mahasiswa
Band itu terbentuk pada 5 Mei 2006. Awalnya mereka adalah para mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus). Mereka bermusik ria bersama di teras kampus, membawakan aneka lagu dengan lirik lucu.

Karena memiliki keunikan khas, Serempet Gudal mendapat job tanggapan, mulai acara sunatan hingga pengantin. "Pernah sehabis pentas hanya dibayar nasi kotak dan ucapan terima kasih. Itu pun tidak masalah. Bagi kami, yang penting bisa tampil bersama," ucap Erry mengenang.

Tanpa diduga, keunikan mereka membawa berkah. Tanggapan bukan sebatas kepada perhelatan sunatan dan pengantin, tetapi sudah merambah sebagai band pembuka pada saat band-band ternama dari Ibu Kota manggung di daerah Jawa Tengah. Perhelatan resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pun mengundang Serempet Gudal.

Tidak mengherankan jika Xella dan kawan-kawan mendapat hati di kalangan anak-anak muda. Mereka memiliki fans yang menamakan diri Begundal Handal. Lagi-lagi nama yang aneh.

"Kami selalu bertemu Begundal Handal setiap Sabtu malam di Taman KB, Jalan Menteri Supeno, Semarang. Posisi kami setara, saling ledek karena benar-benar sebagai teman," ujar Erry.

Sekitar 30 lagu sudah mereka buat. Pada 2008, mereka menerbitkan minialbum Semarangan. Mereka berencana menyelesaikan album yang lebih besar pada akhir tahun ini. "Banyak penggemar itu menjadi tantangan bagi kami karena harus bisa tumbuh lebih baik dan lebih besar," tutur Xella.

Selain Kimcil dan Malingsia, lagu-lagu nakal mereka lainnya adalah “Selaput Dara”, “Andeng-andeng”, “Zeng Zeng”, “Gitting”, “Brokenpop”, “Balado Kawan Lamo”, “Dioyak Asu”, “Tamara Jalan Raya” dan “Bloody Mommy”.

Pada 13 September 2014, mereka akan pentas di Pulau Dewata yang bertempat di Lingkar Art Space Denpasar. "Bagi kami, ini merupakan capaian yang besar untuk sekelas band yang hanya bermodal semangat dan kekeluargaan," ucapnya.

Erry mengaku, tampil di panggung besar, apalagi hingga perhelatan besar di luar pulau, dulu jauh dari angan-angan. Ketika video klip mereka diunggah ke Youtube, berbagai komentar yang ada di sana sudah menjadi juri yang objektif atas karya-karya mereka

3 komentar: